Religi


“Insya Allah bos, saya akan usahakan,” Jawab saya sambil menekan tuts merah di handphone saya. Ini mengenai undangan seorang kawan. Mungkin karena kesibukan masing-masing sehingga kami tak pernah Baca Selengkapnya

Label

Miras dan Monster

Oleh : Arum Spink

“Insya Allah bos, saya akan usahakan,” Jawab saya sambil menekan tuts merah di handphone saya. Ini mengenai undangan seorang kawan. Mungkin karena kesibukan masing-masing sehingga kami tak pernah bersua. Saya mengiyakan untuk menyambanginya karena di saat waktu yang dia minta, tak ada agenda yang harus saya selesaikan.

Malam itu, langit cukup cerah. Jam menunjukkan pukul delapan malam lewat beberapa menit saat suara klakson terdengar di depan rumah. “wah penjemput sudah tiba nih” ujar saya dalam hati. Segera saya keluar, naik ke mobil milik seorang kawan yang akan menemani dan meluncurlah kami ke tempat tujuan.

Saya mendapati beberapa orang yang sedang asyik bercengkrama tatkala kami tiba di tempat tersebut. Ada yang tidur-tiduran, ada juga yang sementara asyik bermain domino. Mungkin cara ini mereka lakukan untuk melewatkan waktu selama bertugas. Mendengar bahwa kawan yang akan saya temui berada di lantai dua, saya pun segera menuju ke atas.

Saya tak bisa mengenali mereka yang duduk di teras bangunan lantai dua itu. Suasananya gelap. Tak ada lampu penerang. Ada keheningan tatkala saya berdiri di situ. Keheningan itu pecah ketika kawan saya menyapa untuk sekedar memperdengarkan di mana posisi duduknya. Tapi tiba-tiba diam lagi. “ada yang tidak beres di sini nampaknya” ujar saya dalam hati. Benar saja. Sejurus kemudian saya baru sadar bahwa mereka yang duduk di teras bangunan lantai dua itu, sementara menikmati minuman beralkohol.

Saya memilih bergeser masuk ruangan. Di tempat yang saya tuju, ruangan tampak terang karena lampu yang menyala. Saya membaringkan tubuh di atas kasur. Kasur ini cukup mengganggu hidung karena bau apek yang dikeluarkannya. Nampaknya, kasur ini lama tak dibersihkan. Saya menatap langit-langit ruangan. Pikiran saya masih berkecamuk setelah melihat kejadian sebelumnya. Jujur, saya shock.

Saya teringat cerita seorang kawan. Dalam keadaan mabuk seorang pulang ke rumahnya. Di perjalanan, dia menabrak tiang listrik yang berdiri tegak di pinggir jalan. Orang mabuk ini marah dan berteriak, “Siapa yang memindahkan tiang listrik ke tengah jalan ?”. Tak ada yang memindahkan. Dia saja yang tak melihat tiang listrik itu karena akal dan konsentrasinya dikaburkan oleh efek alkohol tersebut.

Tak ada lagi kemuliaan bagi orang yang mabuk. Seorang yang berstatus bangsawan pun, hancur kemuliaan yang dimilikinya tatkala sudah terkapar di pinggir jalan sambil memuntahkan minumannya. Kemuliaan apa lagi yang tersisa ketika ucapan yang keluar dari mulut sudah ngawur dan tak jelas juntrungannya. Tepatlah kiranya ketika Alquran menggunakan kata rijzun, sebagai sindiran kepada mereka yang senang mengkonsumsi miras.

Saya tak menceritakan secara lengkap sampai akhir kejadian di malam itu. Saya malu terhadap diri sendiri karena gagal menghentikan kejadian malam itu. Saya malu kepada Allah karena saya sudah termasuk manusia yang digolongkan oleh Rasulullah sebagai selemah-lemah iman.

Saya melengkapi catatan ini dengan kisah seorang sufi Ibrahim Bin Adham. Ibrahim pada mulanya adalah seorang yang sangat senang minuman keras. Dia mempunyai anak yang sangat disayanginya. Ketika ia minum minuman keras, anak itu sering menepiskan tangan bapaknya supaya ia tidak jadi minum.

Orang tuanya menganggap perbuatan anak itu hanya bercanda saja. Sampai pada suatu saat, anak itu meninggal dunia. Ibarahim gelisah dan menangis setiap hari. Tiba-tiba, dalam sebuah mimpi seakan-akan berada di alam akhirat. Di padang mahsyar, ia dikejar makhluk yang amat menakutkan. Ketika ia dikejar makhluk itu, muncul makhluk lain yang sangat indah menyelematkannya. Kedua makhluk itu berkelahi.

Namun, karena makhluk yang bagus itu lemah, ia kalah. Ibrahim lalu lari lagi. Kemudian ada teriakan dari sebuah bukit. Teriakan itu adalah teriakan anaknya. anak itu datang untuk menghalangi monster jahat itu sehingga Ibarahim tidak jadi ke neraka

Kemudian terjadilah percakapan antara Ibrahim dengan anaknya. “siapa monster yang menakutkan itu ? “ tanya Ibrahim. Anaknya menjawab, “itulah minuman keras yang bapak minum setiap saat. Setiap bapak melakukan maksiat, bapak memperkuat makhluk yang menakutkan itu. Tapi bapak juga terkadang berbuat baik;Itulah makhluk yang lemah itu. Sayangnya, perbuatan baik bapak itu lemah:ia tidak sanggup melawan kemaksiatan bapak.

Ibrahim terbangun dari mimpinya. Begitu ia ingin meraih minuman keras, ia ingat bahwa setiap ia minum, ia semakin memperkuat makhluk menakutkan itu. Akhirnya, Ibrahim bin Adham menjadi sorang sufi. Ia bertekad di dalam hidupnya untuk selalu memperkuat makhluk yang bagus itu dengan melakukan banyak kebajikan. Wallahu A’lam.
19.45 | 0 komentar | Read More

Gaji PNS Naik 10%

Jakarta - Pemerintah kembali memastikan peningkatan kesejahteraan pegawai negeri sipil (PNS) termasuk kenaikan gaji rata-rata 10% tahun ini. Selain itu ada juga pemberian gaji ke-13 dan kenaikan uang lauk pauk.

Demikian disampaikan oleh Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati dalam Arah Kebijakan Fiskal 2012 di Gedung Kemenkeu, Jalan Wahidin, Jakarta, Kamis (5/1/2011).

"Di 2012 ada peningkatan kesejahteraan pegawai. Meliputi belanja gaji dan tunjangan yang melekat pada gaji, remunerasi/tunjangan kinerja/tunjangan khusus, honorarium tetap, lembur dan vakasi, kenaikan gaji pokok sebesar 10% dan gaji ke-13," kata Anny.

"Selain itu terdapat kenaikan uang makan dan uang lauk pauk bagi PNS maupun TNI/Polri," imbuhnya.

Dalam APBN 2012, anggaran belanja kementerian/lembaga (K/L) dialokasikan Rp 508,3 triliun. Anggaran tersebut termasuk belanja pegawai Rp 127,7 triliun yang juga diperuntukkan untuk gaji PNS.

"Secara keseluruhan pemerintah mengalokasikan belanja pegawai sejumlah Rp 217, 7 triliun," jelas Anny.

19.33 | 0 komentar | Read More

Vonis Buat Sandal Jepit

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Palu, Sulawesi Tengah memvonis terdakwa pencurian sandal jepit, AAL bersalah melakukan perbuatan pidana. Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Seto Mulyadi bakal melaporkan putusan hakim yang dinilainya tak bertumpu pada bukti dan kesaksian selama persidangan digelar.

"Sidang maraton ini hasilnya mengecewakan karena AAL dinyatakan bersalah telah melakukan pencurian," sebut Kak Seto sesaat setelah vonis dibacakan pada pukul 20.00 WIT, Rabu (4/1).

Kekecewaan Kak Seto sangat mendalam karena selama persidangan tertutup itu dia memantau terus. Mulai dari bukti-bukti yang diajukan dari sandal butut, kesaksian dua rekan AAL, reka adegan, hingga proses pelaporan yang ditengarai banyak hal yang aneh.

Di saat persidangan, bukti sandal tidak cocok dengan pengakuan AAL. Menurut AAL dia mengambil sandal jelek berwarna hijau. Bahkan saat dicoba di depan majelis hakim, justru sandal merah yang diakui sebagai bukti oleh jaksa nampak kekecilan di kaki siswa SMKN 3 Palu itu.

Dari reka adegan, ujar Kak Seto, ada keganjilan dari segi jarak rumah AAL dengan rumah kos kedua anggota Brimob Palu. Jaraknya sekitar 14 meter. Sebelumnya dinyatakan tempat tinggal mereka bersebelahan.

Pengakuan kedua rekan AAL juga mengakui ada tindak kekerasan terhadap mereka sekitar November 2010. Tujuannya agar mereka mau mengakui. Bahkan AAL sempat ditampar, dipukul hingga lebam-lebam di sekujur tubuhnya. ABG 15 tahun itu pun tak sadarkan diri.

Kedua anggota polisi yang merasa barangnya dicuri itu pun melaporkan pada polres setempat pada November 2010. Pada 3 Juli 2011, AAL dipanggil dan dijadikan tersangka pada 13 Juli 2011. Mirisnya lagi kedua teman AAL dijadikan saksi di bawah ancaman saat pemberkasan perkara.

"Saya menduga dari kronologi pemrosesan hukum ini ada semacam dendam dari pihak kepolisian setempat," cecar Kak Seto.

Usai vonis ini, Kak Seto bakal melaporkan majelis hakim yang mengadili AAL. Pasalnya, keputusan yang diambil mencerminkan perlakuan tak sesuai ketentuan pemberlakuan hukum terhadap anak. Di sisi lain, Kak Seto khawatir stigma sebagai pelaku pencurian akan menciderai psikologis AAL sepanjang hayatnya.

"Memang benar nantinya vonis ini berimplikasi mengembalikan pembinaan anak pada orang tuanya. Tapi, stigma mencuri secara diam-diam dan merugikan orang lain itu akan memperburuk kondisi kejiwaan AAL," papar Kak Seto.

19.27 | 0 komentar | Read More